Rabu, 07 Desember 2011

Cerita Ngewe Memek Dengan Teman Sekantor



Cerita Ngewe Memek Dengan Teman Sekantor. Judulnya agak kasar memang dibacanya, tapi tak apa demi , bahwa kisah yang akan kuceritakan ini memang benar-benar layak untuk dibaca secara menyeluruh. Dalam kisah panas ku ini diceritakan dengan nama yang kusamarkan, mengingat demi menghormati privasinya aku pun berinisiatif untuk menyamarkan tempatnya. Para pembaca yang budiman, inilah kisah ku selengkapnya.
Di tempat kerjaku ada seorang teman wanita, Tia namanya. Tia memiliki tubuh yang sedikit tinggi dan langsing. Berparas manis, malah aku terkadang memandangnya sebagai Devi yang cantik. Berambut sebahu dan bergelombang. Walaupun tidak memiliki toket yang besar, tetapi kalo lagi jalan seksi sekali.
Sama dengan Devi, aku dengan Tia memiliki hubungan yang dekat. Malah aku rasa lebih dekat dibandingkan dengan Devi. Aku sering memijatnya di jam kantor, apabila Tia merasa pegal dan letih. Pada saat memijatnya itu, aku sering sekali memperhatikan Payudaranya yang tidak besar, tetapi ingin sekali aku menyentuhnya. Ahhhhh…
Seringnya aku bercanda atau memijatnya, membuat suasana kantor aku menjadikan hal yang biasa untuk dilihat. Walaupun ada sorot-sorot mata tajam kecemburuan, terutama lelaki yang menyukai Tia. Tetapi kami acuh saja, karena kami berdua menganggap hanya teman biasa dan tidak ada perasaan sesuatu apapun antara satu dengan yang lain. Tia tinggal di kontrakan semenjak tia masih dibangku kuliah. Berasal dari Sumedang, dan orang tuanya masih tinggal di sana. Suatu hari, akhir pekan di bulan Januari lalu, aku di telpon untuk segera datang ke kontrakannya.

“Ada apa sih, Ti?” tanyaku.
“Tolongin Aku dong, Aku nggak bisa ngeluarin CD film ku dari komputer. Kemaren karena macet, Aku matiin aja. Tapi sejak itu dvd-rom Aku nggak bisa dibuka. Hari ini Aku harus balikin dvd ke rental” katanya kemudian.
“Emang kagak bisa dipaksa? Setahu Aku ada lubang kecil di depan yang bisa dicolok untuk bisa dibuka dengan manual, lubangnya kecil, kamu sodok aja pake lidi atau kawat kecil, atau klip kertas kamu lurusin dulu..”
“Woi.. Kamu mau bantu Aku kagak? Aku nggak mau maksa dvd-rom Aku.. Ntar Aku kena pidana perkosaan Kamu mau tanggung jawab?” jawabnya ketus.
“At dah ni orang!! Galak amat sehhh??”
“Emang!!” katanya kemudian.
“Ya udah.. Aku kesana. Eh, di depan kontrakan Kamu udah nggak ada beling kan? Kalo masih ada tolong sapuin dulu, yah? Ntar kaki Aku luka..” kataku.
“Emang Kamu kesini kagak pake alas kaki?? Cepet kesini, bawel!!”
Tak lama setelah itu akupun meluncur ke kontrakan Tia. Sesampainya di depan Kontrakan Tia, terlihat sepi sekali. Berkali-kali aku ketuk-ketuk pagar, tetapi nggak ada sahutan. Tia memang berada di lantai satu dan posisi kamarnya ada di belakang, jadi wajar bila tidak mendengar ketukan aku. Tidak sabar karena matahari mulai terasa panas, aku telpon Tia melalui handphone.
“Woi, Ti.. Aku di depan nih, bukain pagar dong?”
“Iyaa.. Sebentar, Aku turun” kata Tia yang kemudian langsung mematikan Handphone.
Tidak lama kemudian dia datang dan langsung membukakan pagar.
“Sepi amat sih, Ti? Pada kemana orang-orang?” tanya aku.
“Adaa, kok. Mungkin mereka nggak denger aja. Teman kontrakan banyak yang keluar. Kalo si Mbak pembokat si Tia ada dibelakang” jawab Tia.
Setelah menutup pintu pagar, Tia masuk ke dalam diikuti aku dari belakang. Hari itu, Tia menggunakan celana pendek gombrong diatas dengkul dengan kaos warna putih. Aku terus mengikutinya sambil memperhatikan tubuhnya yang berjalan dengan gemulai, memperlihatkan lekuk badan dan bongkahan pantatnya yang bulat. Sesampainya di dalam kamar, aku langsung menghampiri komputernya, dan membuka perlengkapanku yang sudah aku persiapkan dari rumah.
Akhirnya aku dapat mengeluarkan secara manual dvd dari dalam. Setelah aku hidupkan, aku mencoba dvd-rom untuk memastikan drive tersebut bisa tetap digunakan seperti semula. Setelah yakin semuanya beres. Akupun berniat pamit pulang.
“Emang ngapain Kamu pulang buru-buru? Ngapel juga nggak, kan?”
“Iyaa, sih.. Aku cuma nggak enak aja lama-lama disini. Nggak enak sama temen-temen kos yang lain. Lagian ntar laki Kamu dateng gimana?”
“Temen kontrakan yang lain dilantai satu pergi keluar.. Tahu kemana. Kalau cowok Aku lagi ke Surabaya”
Konon dengan pacarnya ini Tia pernah hamil dan memiliki anak diluar nikah, karena hubungan mereka ditentang keluarga. Tetapi karena sesuatu hal, keluarganya menutupinya karena sampai saat ini mereka belum menikah. Walau mereka sudah pacaran sejak SMA.
“Mending Kamu bantuin Aku bersih-bersih kamar..” kata Tia kemudian.
“Bersiin kamar Kamu? Emang apanya lagi yang dibersihin?” aku menjawab sambil celingak-celinguk sekeliling kamar.
Memang banyak sekali barang-barang yang menumpuk di kamar kos Tia. Tetapi semua ditata apik, dan tidak ada sedikitpun kotoran yang terlihat. Akupun menghampiri kamar mandinya yang terletak didalam kamar. Itu pun terlihat bersih. Sementara Tia memperhatikan aku dengan heran.
“Apanya yang dibersihin sih? Oo, maksud Kamu barang-barang ini mau ‘dibersihin’, dikeluarin gitu?” tanya aku kemudian.
“Bukan!! Maksud Aku Kamu bantuin ngangkat ni barang-barang. Aku mau bersihin di belakangnya. Keliatannya sih bersih, tapi hanya di atas doang. Aku mau bersihin barang diatas lemari itu” Tia menerangkan sambil menunjuk barang-barangnya diatas lemari. Memang banyak sekali barangnya. Dan aku baru memperhatikan ada sedikit debu, dan sarang laba-laba disana”
“Woi..,. Ditanya malah bengong! Males yaah? Hahahaha..”
“Ayoo, laah.. nggak, Aku tadi baru liat ada sarang laba-laba.. Ternyata Kamu penyayang binatang juga, toh? Ngerajutin sarang di atas lemari..”
“Cerewet amat sih!! Udah sekarang kita mulai..” kata Tia.
“Ehh.., disini ada minum nggak? Nanti kalo Aku haus gimana?” kata aku kemudian.
“Ya ada donk. Emang Aku ngontrak di sini kagak pernah minum? Dikira Aku onta, cuma minum sekali terus tahan 2 hari puasa!! Di lemari es ada tuh.. Kalo mau, tapi self service yah!”.
Aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar celotehan Tia, sementara Tia melotot menahan kesal melihat kelakuanku itu. Kamipun mulai bekerja. Sambil sesekali terbatuk-batuk karena debu diatas lemari ternyata banyak sekali, kami bergotong royong melakukan proyek pembersihan. Aku bertugas mengangkat barang-barangnya, sementara Tia yang bertugas membersihkan.
Di saat tertentu berulang kali Payudara Tia terlihat olehku. Yang membuat aku tambah bersemangat kerja, walau terbatuk-batuk diterjang oleh badai debu. Akhirnya setelah hampir satu setengah jam, kamipun selesai. Aku duduk di lantai bersandar pada tempat tidurnya untuk melepas lelah. Tak lama kemudian Tia membawa 2 gelas minuman, dan menyodorkan satu gelas kepada aku.
“Eh, katanya self service? Ini gelas isinya?” tanyaku.
“Minyak rem..!” kata Tia sengit.
Sambil tertawa aku menerima gelas yang disodorkan, minum sedikit, dan meletakkan di meja kecil di samping tempat tidur. Kemudian aku berdiri dan berjalan kebelakang kamar.
“Ehh, mau kemana Kamu? Di kasih minum malah kabur” tanya Tia.
“Minjem kamar mandi Kamu.. Aku mau cuci steam nih. Muka Aku lengket” Jawabku.
“Jangan ngabisin sabun Aku, yah? Kalo makenya banyak, pake sabun colek aja, atau pake yang di kotak plastik aja, ada rinso..”
“Terus, habis itu di lindes sama mesin, kan?!? Emang, muka Aku, muka dandang apa?”
Tia tertawa mendengar jawabanku, sementara aku mulai membilas mukaku kemudian membersihkannya dengan sabun muka milik Tia.
Setalah aku itu, aku kembali ke kamarnya. Aku melihat Tia sedang menonton film Prince Of Persia yang tadi macet di komputernya. Mungkin karena takut macet lagi, dia menonton dengan player DVD. Saat itu Tia menonton sambil memijat-mijat kakinya sendiri.
“Kenapa kaki Kamu, Ti?” tanya aku kemudian.
“Rada pegel nih..”
“Sini Aku pijitin.. Eh, mau nggak?”
“Ya, mau laa.. Pake nanya segala.. Dikantor aja mau, apalagi kalo lagi bener-bener butuh?”
Aku pun segera ambil posisi. Tia duduk dilantai dengan bersandar pada tempat tidur, sementara aku disamping kakinya.
“Emang Kamu belon nonton film Prince Of Persia ini?” Sambil memijat, aku bertanya
“Udah yang depan doang yang belakang-belakang belum, karena macet Aku belum sempet lanjutin lagi”
Kami tidak banyak bicara, terutama Tia karena asik menonton film yang diputarnya. Sesekali dia meringis menahan sakit pijatanku. Setelah kedua kakinya aku pijat, Tia minta punggungnya juga aku sentuh. Posisipun kami rubah, sekarang aku dipunggunginya. Sambil menonton acara film aku melakukan pijatan dari bahunnya, turun ke pinggang, kemudian ke bahu lagi. Terakhir baru dari bahu turun ke telapak tangan.
Karena yang ditonton lumayan seru, film yang diputar ternyata tidak lama. Setelah Tia mamatikan video playernya, dia mengubah channel lokal dan kembali menghampiriku. Kali ini dia tidak duduk di lantai, tapi di pinggir tempat tidurnya.
“Pijetin kaki Aku lagi doonk? Ntar balik ke punggung lagi yah?”
“Iyaa.. Tapi Kamu jangan moloor.. Nanti Aku pulang gimana?”
“Emang kenapa, Kamu mau Aku anterin pulang kerumah?”
“Kagaak.. Maksudnya, masa Aku ngucluk keluar kos sendirian..”
“Nggak laah.. nggak tidur kok. Udahlah.. Ayoo doonk” pinta Tia kemudian.
Akupun mulai memijat kakinya satu persatu. Sambil memijat dan dipijat, kamipun mengobrol masalah kantor dan pengalaman-pengalaman yang pernah kami lalui masing-masing. Sambil sesekali melihat acara di televisi bila ada yang menarik. Karena posisi Tia duduk di pinggir tempat tidur dengan kaki menapak di lantai sedangkan aku duduk di lantai menghadap kakinya, membuat aku pegal, aku membalikan badanku, untuk bersandar di tempat tidur. Dengan posisi itu aku bisa melihat televisi tanpa memalingkan kepala, karena letak televisi berada di depan Tia. Tetapi kondisi ini mengharuskan kepalaku di depan selangkangan Tia.

2 komentar: