Rabu, 07 Desember 2011

Cerita Ngewe Memek Dengan Teman Sekantor – 3



sebelumnya: Cerita Ngewe Memek Dengan Teman Sekantor – 2
“Ouhhhhhhhh, dohh.. shhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” desah Tia begitu menggebu.
“Sorry banget, Tiaaaaaa.. Aku nggak kuat.. Aku pengen ngentotin memek kamu lagi, ya.. Sebentar aja.. Shhhhhhhttttt..” kata aku kemudian.
“Ouh, nikmat amat sehhh…… Ahh..” Tia merem melek
Akupun mulai bekerja kembali menggejontkan kejantanan Kontol ku perlahan-lahan namun pasti. Setelah itu aku merebahkan diatas dan sejajar dengan Tia. Aku ngentotin memeknya sambil meremas payudaranya dari balik branya. Remasan demi remasan, entotan demi entotan aku berikan secara tulus kepada Tia. Nikmat sekali persetubuhan kami ini. Aku melakukannya sambil sesekali menciumi leher dan bibirnya apabila kepalanya berpaling kesamping. Beberapa saat kemudian, Tia yang sudah memuncak pada saat aku menjilati Memek nya, mendongakkan kepalanya sambil menaikkan pantatnya untuk memberi jalan Kontol ku agar lebih masuk lagi.
“Ahhhhh… Berengsekk!!!…Akuu.. Keluaarr nihhh..” Tia berteriak sangat keras
“Aku juga.. OOOOOooooooo” kataku yang sudah dari tadi menahan gejolak klimaks ku.
Dengan posisi mendekap dari belakang, akupun memuntahkan sepermaku di dalam Memek nya, yang disusul kemudian dengan orgasme Tia. Rasa nikmat menjalari kami berdua, saat memuntahkan cairan kami masing-masing. Persetubuhan yang kami lakukan memang singkat, tapi menimbulkan kenikmatan tersendiri. Terlebih aku, yang memang sudah menginginkan ngentotin memek Tia dari dulu.

Rasa puas, nikmat dan sayang menyatu dalam tubuhku, seolah tidak ingin lepas, aku mendekapnya sambil terus memberi kecupan-kecupan pada bibir, pipi dan lehernya. Kemudian aku merebahkan badanku disampingnya. Sambil tersenyum manis sekali, Tia membelai dadaku yang masih terbungkus kaos dan berkata.
“Sayang, kamu cape nggak? Kalo cape istirahat disini aja, yah?”
“Nggak, aku malah bahagia bisa berbagi rasa dengan kamu hari ini. Kamu senang nggak?” Aku membalasnya dengan membelai wajahnya yang manis itu sambil menjawab.
Tia mengangguk sambil tersenyum manis kepadaku,
“Dari dulu aku memang sudah tertarik dan suka dengan kamu. Dimataku, kamu orangnya baik, kalem, dan sopan. Aku juga sudah menduga bahwa kamu bisa ngentot berkali kali tanpa letih. Terbukti kamu sudah orgasme 2 kali kamu malah terlihat segar. Kok, kamu bisa seperti itu sih, minum obat ya?”
Aku mendengarkanya sambil berulang-ulang mengecup lengannya dan kemudian membelai wajahnya kembali.
“Minum obat? Obat apaa? Obat-abit? Hehehehe.. Enak aja. Aku kan nggak ada persiapan kalau akhirnya aku ML sama kamu? Eh, semalem aku sih emang minum obat diare..?” jawabku enteng.
“Eh, emang kamu kenapa?” tanya Tia kemudian.
“Sakit perut laa.. Emang sakit panu?”
“Sekarang masih nggak?”
“Nggak… Udah sembuh kok, kenapa?” tanyaku.
“Ooh.. Kirain masih sakit perut.. Bisa gawat! Kalo kamu orgasme, yang keluar bukan dari penis, tapi dari pantat! Kalo gitu kan, gue yang bingung, Hahaha..”
“Idiidih.., jorok amat sih, kamu!! Nggak disangka, cantik-cantik jorok, hahahaha”
“Ee.. Jangan asal ya! Gini-gini juga, Kamu mau ama gue! Buktinya mau jilatin vagina gue.. Dari depan sama dari belakang, kan?”
“Habis.. aku kan emang pengen banget nyetubuhi kamu? Lihat pantat kamu aja aku udah horny.. Apalagi bersetubuh!”
Tia tertawa mendengar celotehanku itu. Kemudian aku bangun untuk meneguk segelas air yang tadi diletakkan di meja. Sementara Tia ke kamar mandi, aku yang sudah selesai minum mengikutinya. Di dalam kamar mandi, Tia membasuh memek nya dengan air, kemudian mengeringkannya dengan handuk. Aku memperhatikannya dengan seksama. Setelah selesai mengeringkan memek nya, aku menghampirinya. Dengan memberi kecupan mesra pada tengkuknya, aku berkata.
“Ti, aku mau lagi, boleh ya?”
Dengan posisi berdiri, aku sisipkan kontol ku yang sudah agak mengeras ke memek nya dari belakang, sementara tanganku yang satu meremas payudaranya dari dalam bajunya. Setelah mengangguk, Tia merespon dengan menunggingkan pantatnya, dengan mengangkat satu kakinya ke kakus. Diiringi dengan desahan panjang.. Aku menggenjotnya perlahan-lahan. Desahan demi desahan mengiringi menit dan gerakan kami yang semakin kencang. Dalam posisi yang sama itu kami melewati kenikmatan bersetubuh dengan rasa sayang dan mesra.
Sambil berpegangan di pinggir bak mandi, Tia merespon setiap gerakan aku yang mengentot nya sambil meremas pantatnya yang kenyal. Akhirnya persetubuhan kami itu diakhiri dengan jeritan tertahan dari Tia yang merespon orgasmenya, sementara aku mendekapnya dengan erat saat aku merasakan orgasmeku dan menyemprotkan cairan cintaku di dalam memek nya.
Tia menghempaskan tubuhnya di pinggir bak mandinya. Peluh dan rasa nikmat menjalar di tubuh kami berdua. Dengan penis masih tertancap di memek nya, aku membelai lembut rambutnya dan memberi kecupan sayang ke pelipis kirinya. Tia berbalik dan mengecup lembut bibirku.
Setelah itu sambil memegang kontol ku, Tia berkata “Aku bersihkan, ya?”
Dengan tersenyum aku mengangguk. Kemudian Tia mengambil gayung dan mulai membersihkan kontol ku. Setelah mengeringkan dengan handuk, sambil berjongkok Tia mengocok kontol ku dengan perlahan, kemudian mengulumnya dengan lembut sekali. Aku menikmati permainannya dengan memejamkan mataku. Rasa nikmat dan geli menjalar di dalam tubuhku dengan cepat. Aku menariknya berdiri dan mencium bibirnya dengan dahsyat sambil memainkan klitorisnya. Kemudian menariknya kembali ke kamar tidur.
Di kamar, aku duduk di pingir tempat tidur dan menarik Tia agar duduk di pangkuanku. Tia mengerti dengan permainanku kali ini. Dengan segera mengambil posisi untuk duduk dan memasukkan kontol ku ke dalam memek nya. Sedikit-demi sedikit kontol ku amblas ke dalam memek nya Tia yang duduk berhadapan denganku. Setelah masuk semua, aku mencium bibirnya yang indah itu dengan penuh nafsu dan bersemangat.
Tia merespon ciumanku dengan menyedot ujung lidahku, sambil berusaha melucuti kaosku.
Akupun tidak ketinggalan, ikut pula dalam program pelucutan kaos. Setelah BH aku buka, maka terpampanglah Payudaranya yang indah. Tidak besar, tapi membuat nafsuku tambah bergelora. Walaupun ada sedikit lipatan-lipatan lemak di tubuhnya (karna kurang olah raga), nafsuku bertambah naik saat melihat tubuhnya bugil.
Sambil bergerak naik turun, tubuhnya tidak luput aku serang dengan remasan dan jilatan lidahku. Dengan tangan kiri meremas payudara kanannya, aku menyedot gemas payudara kirinya dengan memainkan putingnya dengan ujung lidahku. Kemudian, aku menjilati dan mencium setiap senti tubuhnya bagian depan sambil meremas pantatnya dari depan. Sementara Tia mengerakkan tubuhnya semakin liar, naik turun dan memutarkan pantatnya. Saat itu kontol ku seperti diremas dari atas, nikmat dan panas. Seiring dengan waktu, gejolak orgasmepun semakin dekat.
Gerakan-gerakan Tia yang dibuat semakin orgasmeku tidak tertahan. Dengan dekapan yang kencang pada tubuh Tia, aku merapatkan tubuhnya padaku sambil melepas orgasmeku yang kesekian. Setelah itu aku mencim leher dan bibirnya dengan mesra. Aku tahu Tia belum sampai. Oleh sebab itu masih dalam pelukanku, aku mengangkat tubuhnya dan meletakkan di tempat tidur. Dengan gaya konvensional, aku setubuhi kembali tubuhnya dari atas. Tubuhnya yang indah, dan wajahnya yang cantik tidak membuat sulit menaikkan libidoku. Dengan memegang pergelangan tangannya di kiri dan kanan kepalanya, aku menjilati tubuhnya dan buah dadanya, tidak ketinggalan lengan dan ketiaknya.
Bunyi khas vagina yang becek karena cairannya dan spermaku, ditambah tubuhnnya yang berguncang karena sodokanku, menambah nafsu untuk mengentot nya kian memuncak. Tia yang telentang dengan kaki kakinya melebar, segera mengunci tubuhku rapat-rapat. Diiringi dengan desahan panjang dan erangan tertahan, iapun orgasme dalam pelukanku.
Setelah reda, aku merapatkan kakinya didepanku. Sambil memeluk kakinya, aku mengentot nya untuk mendapatkan kenikmatan puncak. Dan terjadilah, dengan melepas pelukanku pada kakinya dan memeluk tubuhnya rapat-rapat, segera aku hentakan kontol ku sedalam dalamnya pada liang memeknya yang masih sangat legit dengan empotannya yang dahsyat, dan menyemburlah cairan pejuhku sederas-derasnya. Masih dalam posisi memeluk, aku menciumnya kembali. Senyuman manispun terhampar diwajahnya, walau aku melihat ada rasa letih pada wajahnya. Aku mencium seluruh wajah dan dagunya
“Kamu letih sekali, Ti. Kamu istirahat dulu, yah?”
Tia merengut “Emang, kamu mau kemana, pulang?”
“Iyaa.. Udah mau malem, Ti. Nanti kalau malem-malem aku tiba-tiba berubah jadi semangka gimana?” kataku kemudian.
“Biarin!! Aku taruh aja di kulkas. Kan, aku bisa ngeluarin kapan aja aku mau..”
“Maksud kamu, aku harus tinggal disini, gitu?” kataku dengan lembut.
Tia diam mendengar pertanyaanku. Tiba-tiba tangannya bergerak, kemudian memelukku rapat-rapat.
“Tia, walau bagaimanapun aku harus tetap pulang, yah? Kapanpun kamu mau jalan atau bertemu, aku usahakan pasti datang, kok. Nggak enak, nanti kalau ketauan sama pacar kamu, gimana?”.
Perkataanku itu membuat pikiranku kosong beberapa saat. Sebenarnya aku berkata seperti itu dengan penuh pertentangan didalam batinku. Aku memang suka sekali dengan Tia sejak dulu. Tapi karena ia sudah punya tunangan dan kami beda prinsip, aku kemudian mundur. Oleh sebab itu akhirnya aku mengalihkan perhatianku kepada Devi, yang masih satu prinsip denganku. Walau akhirnya dia menikah dengan teman kuliahnya. Walau dengan berat hati, akhirnya Tia mengizinkan aku pulang. Sebenarnya aku memang ingin sekali menerima tawarannya untuk menginap di Kontrakannya. Tetapi ada banyak hal yang harus aku utamakan, tidak hanya sex atau perasaan sayangku padanya.
Setelah hari itu, aku masih sering bertemu dengan Tia di kantor. Baik di jam makan siang, atau setelah jam kantor, aku masih menyempatkan diri bertemu dengannya sesuai dengan janjiku. Hanya saja aku harus tetap menghilangkan perasaanku yang sebenarnya padanya. Walau pada kenyataannya aku beberapa kali ngewe dengannya, perasaan sayangku padanya, dapat aku pendam dengan nafsuku itu.
Beberapa kali aku mengentoti nya setelah kejadian itu. Baik di Kontrakannya atau di hotel dekat kantorku. Kalau keinginan kami sudah memuncak, pernah kami lakukan dikantor. Dengan menghadap ke kaca gedung, kami melakukannya dengan cepat sambil menikmati pemandangan kota Jakarta dari balik kaca. Sudah tentu kami melakukannya dengan posisi berdiri dan berpakaian lengkap! Hanya menyibakkan roknya (pernah dengan celana panjang) dan aku cukup membuka resletingku, aku mengentot nya dari belakang. Atau berhadap-hadapan dengan kaki Tia yang satu naik keatas kursi. Walaupun ruangan yang kami pergunakan adalah ruangan sisa tidak terpakai di belakang ruangan utama dan kedap suara, kami tetap merasa was-was dan hati-hati bila bermain sex.
Demikianlah kisa cerita ngewe ku dengan Tia walaupun telah ku samarkan, aku rasa ia akan tahu siapa yang diceritakan diatas. Kalaupun Tia membaca cerita ngentot ini, yaaa… maafin aku Ti..
Cerita Ngewe Memek Dengan Teman Sekantor, Tamat…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar